XtGem Forum catalog
17:082026-09-06
online=1
Taufik Ismail
Puisi 1 KARANGAN BUNGA
Tiga anak kecil Dalam langkah malu-malu Datang ke salemba Sore itu.
Ini dari kami bertiga Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati Siang tadi
Karya : Taufiq Ismail, Tirani, 1966
Puisi 2 SALEMBA
Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak perlahan Menuju pemakaman
Siang ini Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani
Taufiq Ismail [Tirani dan Benteng], 1966
Puisi 3 BENDERA
Mereka yang berpakaian hitam Telah berhenti di depan sebuah rumah Yang mengibarkan bendera duka Dan masuk dengan paksa Mereka yang berpakaian hitam Telah menurunkan bendera itu Di hadapan seorang ibu yang tua "Tidak ada pahlawan meninggal dunia!" Mereka yang berpakaian hitam Dengan hati yang kelam Telah meninggalkan rumah itu Tergesa-gesa Kemudian ibu tua itu Perlahan menaikkan kembali Bendera yang duka Ke tiang yang duka 1966
Puisi 4 HORISON
Kami tidak bisa dibubarkan Apalagi dicoba dihalaukan Dari gelanggang ini Karena ke kemah kami Sejarah sedang singgah Dan mengulurkan tangannya yang ramah tidak ada lagi sekarang waktu Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu Karena jalan masih jauh Karena Arif telah gugur Dan luka-luka duapuluh satu 1966
Puisi 5 KITA ADALAH PEMILIK SYAH REPUBLIK INI
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus Berjalan terus Karena berhenti atau mundur Berarti hanyut Apakah akan kita jual keyakinan kita Dalam pengabdian tanpa harga Akan maukah kita duduk satu meja Dengan para pembunuh tahun yang lalu Dalam setiap kalimat yang berakhiran: "Duli Tuanku"? Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus Berjalan terus Kita adalah manusia bermata sayu, yang ditepi jalan Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan Dan seribu pengeras suara yang hampa suara Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus Berjalan terus dari: Tirani dan benteng - taufik ismail
Puisi 6 DOA
Tuhan kami Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda Dan menutupi hati nurani Ampunilah kami Ampunilah Amin Tuhan kami Telah terlalu mudah kami Menggunakan asmaMu Bertahun di negeri ini Semoga Kau rela menerima kembali Kami dalam barisanMu Ampunilah kami Ampunilah Amin. 1966
Puisi 7 DARI SEORANG IBU DEMONSTRAN
bu telah merelakan kalian Untuk berangkat demonstrasi Karena kalian pergi menyempurnakan Kemerdekaan negeri ini Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada Atau gas airmata Tapi langsung peluru tajam Tapi itulah yang dihadapi Ayah kalian almarhum Delapan belas tahun yang lalu Pergilah pergi, setiap pagi Setelah dahi dan pipi kalian Ibu ciumi Mungkin ini pelukan penghabisan (Ibu itu menyeka sudut-matanya) Tetapi ingatlah, sekali lagi Jika logam itu memang memuat nama kalian (Ibu itu tersedu sesaat) Ibu relakan Tapi jangan disaat terakhir Kauteriakkan kebencian Atau dendam kesumat Pada seseorang Walaupun betapa zalimnya Orang itu Niatkanlah menegakkan kalimah Allah Diatas bumi kita ini Dengan menegakkan Keadilan Dan kebenaran Tanpa dendam dan kebencian Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan Serta Rasul kita yang tercinta Pergilah pergi Iwa, Ida dan Hadi Pergilah pergi Pagi ini (Mereka telah berpamitan dengan ibu yang tua. Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka, dan berangkatlah mereka bertiga, tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)
Puisi 8 SEORANG TUKANG RAMBUTAN KEPADA ISTRINYA
tadi siang ada yang mati, Dan yang mengatar banyak sekali Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus! Sampai bensin juga turun harganya Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula Mereka kehausan dalam panas bukan main Terbakar mukanya diatas truk terbuka Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu Biarlah sepuluh ikat juga memang sudah rejeki mereka Mereka berteriak kegirangan dan berebutan Seperti anak-anak kecil Dan memyoraki saja. Betul bu, menyoraki saja 'Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!' Dan ada yang turun dari truk, bu Mengejar dan menyalami saja 'Hidup rakyat!' teriaknya Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar 'Hidup pak rambutan!' sorak mereka 'Terima kasih pak, terima kasih! Bapak setuju kami, bukan?' Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara 'Doakan perjuangan kami, pak!' Mereka naik truk kembali Masih meneriakkan terima- kasihnya 'Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!' Saya tersedu, bu. Belum pernah seumur hidup Orang berterimakasih begitu jujurnya Pada orang kecil seperti kita".
Sajak rendra
Sajak emha

.
H o m e